Rabu, 04 Mei 2011

DISIPLIN DAN MOTIVASI BELAJAR - PSIKOLOGI PENDIDIKAN

  1. Disiplin
1.      Pengertian Kedisiplinan
Disiplin  berasal  dari  akar  kata   “disciple“  yang  berarti belajar. Disiplin  merupakan  arahan  untuk melatih  dan membentuk  seseorang   melakukan sesuatu  menjadi lebih  baik.
Disiplin adalah  suatu proses yang dapat  menumbuhkan perasaan  seseorang untuk mempertahankan  dan meningkatkan  tujuan  organisasi  secara obyektif, melalui kepatuhannya  menjalankan  peraturan  organisasi. 
Kedisiplinan adalah suatu latihan batin yang tercermin dalam tingkah
laku yang bertujuan agar orang selalu patuh pada peraturan. Dengan adanya kedisiplinan diharapkan anak didik mendisiplinkan diri dalam mentaati peraturan sekolah sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancer dan memudahkan pencapaian tujuan pendidikan. Oleh karena itu, anak didiperlu dibimbing atau ditunjukkan mana perbuatan yang melanggar tata tertib dan mana perbuatan yang menunjang terlaksananya prose belajar  mengajar dengan baik.
Perbuatan-perbuatan yang merupakan masalah pelanggaran disiplin
antara lain datang terlambat, tidak mengumpulkan tugas pekerjaan rumah (PR), berkelahi, membolos, membantah perintah guru, ramai ketika guru menerangkan pelajaran dan sebagainya.

2.      Tujuan Kedisiplinan
Kedisiplinan siswa dalam belajar sangatlah penting, oleh karena itu adanya sikap yang tertanam pada siswa mempunyai tujuan agar dapat menjaga hal-hal yang menghambat atau mengganggu kelancaran proses belajar -mengajar, juga dapat membuat anak didik terlatih dan mempunyai kebiasaan yang baik serta bisa mengontrol setiap tindakannya sehingga akan membentuk pribadi yang mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Setiap tindakan yang dilakukan siswa akan dampak pada perkembangan mereka sehingga mereka akan menyadari bahwa hakikat segala apa yang diperbuat akan kembali pada diri mereka sendiri disiplin adalah menanamkan dan menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki, sebab percaya diri di setiap perbuatan baik atau buruk yang dilakukannya akan di tanggung sendiri konsekuensinya.
Selain tujuan-tujuan di atas masih ada beberapa tujuan disiplin antara lain, sebagai berikut:
a.       Dalam bukunya Drs. Subari, disiplin mempunyai tujuan untuk penurutan terhadap suatu peraturan dengan kesadaran sendiri untuk terciptanya peraturan itu.
b.      Dalam bukunya Emile Durkeim,disiplin mempunyai tujuan ganda yaitu: mengembangkan suatu peraturan tertentu dalam tindak tanduk manusia dan memberinya suatu sasaran tertentu dan sekaligus membatasi cakrawalanya.
c.       Menurut Dra. Kartini kartono, “menanamkan disiplin pada anak untuk menolong anak memperoleh keseimbangan antara kebutuhannya untuk berdikar dan  penghargaan terhadap hak-hak orang lain.
d.      Sahertian menyatakan bahwa tujuan disiplin adalah
1)      Menolong anak menjadi matang pribadinya dan  berubah dari sifat ketergantungan ke arah tidak ketergantungan
2)      Mencegah timbulnya persoalan-persoalan disiplin dan menciptakan situasi dan kondisi dalam belajar  mengajar supaya mengikuti segala peraturan yang ada dengan penuh perhatian.
e.       Muhtar yahya berpendapat, tujuan disiplin adalah bahwa perkembangan dari pengembangan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri tanpa pengaruh atau kendali dari luar.

3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan
Sifat disiplin yang dimilki oleh siswa merupakan hasil interaksi berbagai unsur di sekelilingnya.Disiplin juga merupakan sikap yang bersifat lahir dan batin yang pembentukannya memerlukan latihan-latihan yang disertai oleh rasa kesadaran dan pengabdian, dimana perbuatan setiap perilaku merupakan pilihan yang paling tepat bagi dirinya. Hal ini tidak terlepas karena sikap disiplin seseorang sangat relatif tergantung pada dorongan yang ada di sekelilingnya, dimana dorongan tersebut sangat mudah mengalami perubahan,bisa meningkat, menurun bahkan bisa hilang. Itu artinya sikap disiplin yangada pada diri siswa tergantung dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya sikap disiplin siswa tidak terlepas dari faktor yang mempengaruhi belajar karena adanya pada dasarnya sikap disiplin adalah tahap  belajar siswa dari sikap tidak teratur menjadi sikap teratur. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat di golongkan menjadi dua golongan saja yaitu
a.       Faktor intern
Di dalam membicarakan faktor intern ini, akan di bahas menjadi tiga faktor yaitu.
1)      Faktor jasmani
a)      Faktor kesehatan
Anak didik tidak akan mempunyai sikap disiplin tinggi ketikasegenap badan mereka mempunyai penyakit, itu artinya bahwa kesehatan yang dimilki oleh anak didik amatlah penting ketika anak didik ingin mempunyai disiplin dan diri yang tinggi.
b)      Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh dan badan. Seorang anak didik ketika mempunyai cacat tubuh maka proses kegiatan sehari-harinya akan tergantung karena kondisi tubuh mereka tidak memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang sempurna di bandingkan dengan anak didik yang tidak mempunyai cacat tubuh.
2)      Faktor psikologis
Kurang lebih ada tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologi yang mempengaruhi belajar . Faktor-faktor itu adalah intelejensi (kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan yang menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif. Mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat), perhatian (menurut Ghazali perhatian keaktifan jiwa yang tertinggi, jira itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek atau sekumpulan objek), minat (Hilgard memberikan rumusan tentang minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang disenangi), bakat (adalah kemampuan untuk belajar, kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih), motif kematangan (adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru), kesiapan (merupakan kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi yang timbul dari dalam seseorang). Semua faktor-faktor tersebut, tidak dapat bisa dipisahkan ketika ingin membentuk disiplin anak yang baik, karena faktor-faktor di atas saling berimplikasi dan  berhubungan yang satu dengan yang lainnya.

3)      Faktor kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah luarnya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuhan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Jelaslah, bahwa faktor kelelahan yang dialami oleh siswa menyebabkan siswa malas dalam melakukan sesuatu tepat pada waktunya dan  itu berarti bahwa kedisiplinan siswa tergantung.
b.      Faktor ekstern
Dalam pembahasan faktor ekstern ini akan di bahas beberapa faktor, yaitu antara lain:
1)      Faktor keluarga
Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama dan utama, tapi juga dapat menjadi penyebab kesulitan disiplin dalam belajar . Itu artinya keluarga adalah salah satu lembaga pendidikan yang pertama kali yang mendidik anak menjadi baik. Dalam keluarga inilah anak didik mendapat pengetahuan pertama kali tentang apapun, begitu juga dengan sikap disiplin harus pertama kali ditanamkan pada anak ketika masih berada dalam lingkungan keluarga, karena keluarga adalah komunitas sosial kecil yang pertama yang di terjuni anak. Ketika disiplin sudah ditanamkan sejak kecil atau dini dalam lingkungan keluarga maka sikap disiplin pada anak akan menjadi suatu kebiasaan ketika mereka berada di luar rumah atau lingkungan keluarga. Hal ini terjadi karena “tiap pengaruh lingkungan yang menentukan tingkah laku si anak yang terutama ialah dari keluarga”.
2)      Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah ini menyangkut faktor guru, faktor alat
sekolah, faktor kondisi gedung dan faktor waktu sekolah. Semua faktor yang termasuk lingkungan sekolah tersebut dapat berpengaruh terhadap disiplin siswa ketika mereka berada di lingkungan sekolah.
Di antara faktor-faktor yang mempengauhi kedisiplinan siswa adalah faktor guru, hal ini disebabkan karena kadang-kadang guru tidak kulifiet, misalnya sebagi berikut:
a)      Dalam pengambilan metode yang ia gunakan atau dalam mata pelajaran yang dipegangnya, sehingga dalam penyampaian mata pelajaran kurang pas dengan metodenya yang menyebabkan anak didik malas mengikuti pelajaran atau kurang.
b)      Hubungan guru dengan murid kurang baik, yang bermula pada sikap guru yang tidak di senangi oleh murid-muridnya seperti kasar, tidak pernah senyum, menjengkelkan, suka membengkak dan  lain-lain.
c)      Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha di agnosis kesulitan belajar, misalnya dalam bakat, minat, sifat, kebutuhan-kebutuhan anak dan  sebagainya.
d)     Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak.
Artinya ketika guru menyampaikan pelajaran sedangkan siswa tidak memahaminya, maka guru masih terus melanjutkan pelajaran yang ia sampaikan pada murid karena dia menganggap bahwa pelajaran yang ia sampaikan pada siswa sudah sesuai dengan standar. Padahal materi yang di berikan oleh guru tidak di pahami oleh siswa, sehingga menyebabkan malasnya belajar pada diri siswa.
e)      Upaya Mendisiplinkan Siswa Di Sekolah
Disiplin berarti adanya kesediaan untuk mematuhi peraturan-peratura dan larangan-larangan. Kepatuhan disini bukan hanya patuh karena adanya tekanan-tekanan dari luar, melainkan yang di dasari oleh adanya kesadaran tentang nilai-nilai pentingnya peraturan-peraturan dan larangan-larangan tersebut. Disiplin harus di tanamkan dan di tumbuh kembangkan di hari anak sehingga akhirnya disiplin itu akan tumbuh dari hati sanubari anak sendiri, sehingga disini akan menjadi  disiplin diri sendiri atau self disipline.
Langkah-langkah untuk menanamkan disiplin pada anak adalah sebagai berikut :
a)      Dengan pembiasaan
Sikap disiplin siswa akan meningkat apabila ditangani secara intensif sesuai dengan uraian mengenai tata tertib yang telah disampaikan, pemberian informasi yang berisi norma moral dapat diterima dan  dimiliki oleh siswa apabila dilakukan berulang-ulang dan diikuti pemantauan secara sistematis.
b)      Dengan pengawasan
Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak, tanpa pengawasan berarti membiarkan anak-anak berbuat sekehendaknya.
Demikian pula dalam kedisiplinan dalam tata tertib sekolah, pengawasan dilakukan dengan tujuan supaya anak-anak dapat mentaati peraturan yang telah di tetapkan, sehingga untuk berangsur-angsur bisa bertanggung jawab atas tindakan dan perbuatannya.
c)      Dengan perintah
Perintah bukanlah apa yang keluar dari seseorang yang harus di kerjakan, melainkan dalam hal ini termasuk pula peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh ank-anak. Tiap-tiap perintah atau peraturan mengandung norma-norma yang baik, yang bersifat memberi atau mengandung tujuan ke arah perbuatan siswa atau kebaikan.
d)     Dengan larangan
Kita harus melarang perbuatan anak-anak bila perbuatannya itu menyimpang dari peraturan atau tata tertib. Larangan itu dilakukan untuk mencegah tingkah laku anak ke arah perbuatan yang membahagiakan dirinya, lebih-lebih perbuatan nista atau susila.
Adapun teknik atau cara yang digunakan oleh guru atau yang lainnya dalam pembiasaan kedisiplinan adalah sebagai berikut:
a.       Teknik pengendalian dari luar (external control tecnique). Beruapa Bimbingan dan penyuluhan, teknik ini dalam arti pengawasan perlu di perketat, namun hendaknya secara human atau di sesuaikan dengan perkembangan anak didik.
b.      Teknik pengendalian diri dari dalam (inner control tecnique). Teknik ini lebih baik di gunakan dalam pembinaan  disiplin dalam kelas sehari-hari.
c.       Teknik pengendalian kooperatif (cooperatif control tecnique). Dalam hal ini disiplin kelas yang baik mengandung kesadaran untuk mengantisipasi berbagai problem.



  1. Motivasi Belajar

1.      Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi Belajar merupakan salah satu motif yang tergolong dalam motivasi instrinsik. Adapun motivasi ini menunjukkan bahwa individu menyadari kegiatan yang sedang diikuti bermanfaat untuknya karena sejalan
Dengan kebutuhannya. Sekarang, apa sesungguhnya yang dimaksud dengan motivasi? Terlebih dahulu kita harus tahu katadari motivasi kata dasarnya motif. Menurut Berelson dan Steiner motif adalah suatu keadaan dari dalam yang memberi tenaga, yang mendorong, atau yang menggerakkan, dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kepada tujuan-tujuan. Sedangkan pendapat Sadirman A.M bahwa motif adalah daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa motif adalah suatu penggerak yang berasal dari dalam dan dari luar subyek yang menyebabkan seseorang melakukan suatu aktivitas untuk mencapainya ke suatu tujuan.
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Greenberg mengemukakan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan perilaku arah suatu tujuan.
Dengan demikian dapat disimpulkan dari dua pendapat di atas bahwa motivasi adalah penggerak, pengarah dan memperkuat tingkah laku dalam diri seseorang untuk bertindak yang ditandai oleh munculnya kemauan dengan adanya suatu kebutuhan. Seperti kita ketahui bahwa perilaku manusia senantiasa dilatar belakangi oleh motif tertentu. Salah satu motif yang berperan sangat besar sehingga mampu mempengaruhi kehidupan manusia adalah motivasi belajar.
Setelah kita ketahui apa yang dimaksud dengan motivasi, selanjutnya kita akan membahas tentang pengertian dari belajar, menurut beberapa pendapat ahli pendidikan yaitu:
a.       Menurut Slameto, belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
b.      Menurut H. M. Ali, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungan.

Dari beberapa pendapat di atas yang dimaksud belajar adalah suatu proses perubahan dalam tingkah laku secara keseluruhan sebagai hasil
interaksi dengan lingkungannya.
Dalam kegiatan belajar, berlangsung dan keberhasilannya bukan hanya ditentukan oleh faktor intelektual, tetapi juga faktor-faktor yang non intelektual, termasuk salah satunya ialah motivasi belajar motivasi . Motivasi punyai peranan penting dalam proses belajar mengajar baik bagi guru maupun siswa.
Bagi guru mengetahui motivasi belajar  dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan motivasi belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan perbuatan belajar. Siswa melakukan aktivitas motivasi belajar dengan senang karena didorong motivasi .
Adapun motivasi motivasi belajar motivasi belajar adalah kekuatan-kekuatan atau tenaga-tenaga yang dapat memberikan dorongan kepada kegiatan belajar  murid.
Sedangkan Winkel mendefinisikan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan.
Dari kedua pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengertian motivasi belajar adalah kemampuan mental (potensi) yang dimiliki seseorang sejak lahir dan digunakan untuk mengatasi tantangan dan hambatan guna mencapai tujuan.

2.      Macam- macam Motivasi
Dalam membicarakan soal macam-macam motivasi, hanya akan dibahas dua sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang disebut “motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri seseorang yang disebut “motivasi ekstrinsik”.
a.       Motivasi intrinsik
Yang dimaskud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atauberfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.
Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya.
Hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi intrinsik yaitu, sebagai berikut :
1)      Adanya kebutuhan
Disebabkan oleh adanya sesuatu kebutuhan, maka hal ini menjadi pendorong bagi anak untuk bebuat dan berusaha. Misalnya saja anak ingin mengetahui isi cerita dari buku-buku komik. Keinginan untuk mengetahui isi cerita ini dapat menjadi pendorong yang kuat bagi anak untuk belajar membaca. Karena, apabila ia telah dapat membaca, maka ini dapat berarti bahwa kebutuhannya ingin mengetahui isi cerita dari buku-buku komik itu telah bisa dipenuhi.
2)      Adanya pengetahuan tentang kemajuannya sendiri
Dengan anak mengetahui hasil-hasil atau prestasinya sendiri, dengan anak mengetahui apakah ia ada kemajuan atau sebaliknya ada kemunduran, maka hal ini dapat menjadi pendorong bagi anak untuk belajar lebih giat lagi. Misalnya anak yang mendapat angka kurang, akan terdorong Belajar lebih giat agar dapat memperoleh angka yang baik. Sebaliknya anak yang mendapat angka yang baik, akan terdorong untuk belajar dengan baik agar bisa memperoleh angka yang baik lagi atau paling tidak untuk mempertahankan prestasi yang telah dicapainya.
3)      Adanya aspirasi atau cita-cita
Mungkin bagi anak kecil belum mempunyai cita-cita atau jika mempunyai cita-cita, mungkin cita-cita itu masih begitu sederhana (simple). Tetapi, kian tua anak, gambaran tentang cita-cita ini pun semakin jelas dan tegas. Anak ingin (mempunyai cita-cita) untuk menjadi sesuatu, misalnya : inginjadi dokter, insinyur, militer, guru/dosen, dan  sebagainya. Cita-cita yang menjadi tujuan dari hidupnya, ini akan merupakan pendorong bagi seluruh kegiatan anak, pendorong bagi belajarnya.
b.      Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsangan dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar  karena tahu besok paginya akan diuji dengan harapan mendapat nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar  ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik atau agar mendapat hadiah.
Hal-hal yang dapat menimbulkan motivasi ekstrinsik yaitu, sebagai berikut :



1)      Ganjaran
Ganjaran adalah merupakan alat pendidikan represif yang bersifat positif, tetapi juga merupakan alat motivasi. Ganjaran dapat menjadi
pendorong bagi anak untuk belajar lebih baik, lebih giat lagi. Kita dapat memilih macam-macam ganjaran dengan disesuaikan dengan kondisi dan situasi kita masing-masing
2)      Hukuman
Hukuman, biarpun merupakan alat pendidikan yang tidak
menyenangkan, alat pendidikan yang bersifat negatif, namun demikian dapat juga menjadi alat motivasi, alat pendorong untuk mempergiat belajarnya murid. Murid yang pernah mendapat hukuman oleh karena kelalaian tidak mengerjakan suatu tugas, maka ia akan berusaha untuk tidak memperoleh hukuman lagi. Ia berusaha untuk dapat selalu memenuhi tugas-tugas belajarnya, agar terhindar dari bahaya hukuman.
3)      Persaingan atau kompetisi
Kompetisi dapat menjadi tenaga pendorong yang sangat besar.
Kompetisi dapat tejadi secara dengan sendirinya, tetapi dapat pula diadakan kompetisi secara sengaja oleh guru. Kompetisi secara dengan sendirinya, dapat terjadi secara terang-terangan tetapi dapat pula terjadi secara sembunyi-sembunyi.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwamotivasi ektrinsik ini tidak baik dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar -mengajar tetap penting. Sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar -mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.



3.      Prinsip-prinsip Motivasi
Prinsip-prinsip ini disusun atas dasar penelitian yang seksama dalam rangka mendorong motivasi belajar murid-murid di sekolah yang mengandung pandangan demokratis dan  dalam rangka menciptakan self motivation dan self discipline di kalangan murid-murid. Kenneth H. Hover,mengemukakan prinsip-prinsip motivasi sebagai berikut:
a.       Pujian lebih efektif dari pada hukuman
Hukuman bersifat menghentikan sesuatu perbuatan, sedangkan pujian bersifat menghargai apa yang telah dilakukan. Karena itu pujian lebih besar nilainya bagi motivasi belajar murid.
b.      Semua murid mempunyai kebutuhan-kebutuhan psikologis (yang bersifat dasar) tertentu yang harus mendapat kepuasan.
c.       Motivasi yang berasal dari dalam individu lebih efektif dari pada motivasi yang dipaksakan dari luar.
d.      Terhadap jawaban (perbuatan) yang serasi (sesuai dengan keinginan) perlu dilakukan usaha pemantauan (reinforcement).
e.       motivasi itu mudah menjalar atau tersebar terhadap orang lain.
f.       Pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi.
g.      Tugas-tugas yang dibebankan oleh diri sendiri akan menimbulkan minat yang lebih besar untuk mengerjakannya dari pada apabila tugas-tugas itu dipaksakan oleh guru.
h.      Pujian-pujian yang datangnya dari luar (external reward) kadang-kadang dan diperlukan dan cukup efektif untuk merangsang minat yang sebenarnya.
i.        Teknik dan proses mengajar yang bermacam-macam adalah efektif untuk memelihara minat murid.
j.        Manfaat minat yang telah dimilki oleh murid adalah bersifat ekonomis.
k.      Kegiatan-kegiatan yang akan dapat merangsang minat murid-murid yang kurang mungkin tidak ada artinya (kurang berharga) bagi para siswa yang tergolong pandai.
l.        Kecemasan yang besar akan menimbulkan kesulitan belajar
m.    Kecemasan dan frustrasi yang lemah dapat membantu belajar , dapat juga lebih baik.
n.      Apabila tugas tidak terlalu sukar dan apabila tidak ada maka frustrasi secara cepat menuju ke demoralisasi.
o.      Setiap murid mempunyai tingkat-tingkat frustrasi toleransi yang berlainan.
p.      Tekanan motivasi kelompok murid (per grup) kebanyakan lebih efektif dalam motivasi dari pada tekanan atau paksaan dari orang dewasa.
q.      Motivasi yang besar erat hubungannya dengan kreativitas murid.
Demikian beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai petunjuk
dalam rangka membangkitkan dan memelihara motivasi murid dalam belajar .

4.      Bentuk-bentuk Memotivasi Di Sekolah
Ada beberapa bentuk dan  cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah, antara lain:
a.       Memberi angka
Angka dimaksud adalah sebagi simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik. Angka yang diberikan kepada setiap anak didik
biasanya bervariasi, sesuai hasil ulangan yang telah mereka peroleh dari hasil penilaian guru, bukan karena belas kasihan guru. Angka merupakan alat motivasi yang cukup memberikan rangsangan kepada anak didik untuk mempertahankan atau bahkan lebih meningkatkan motivasi belajar mereka di masa mendatang.
b.      Hadiah
Hadiah adalah memberikan sesuatu kepada orang lain sebagai
penghargaan atau kenang-kenangan/ cenderamata. Hadiah yang diberikan kepada orang lain bisa berupa apa saja, tergantung dari keinginan pemberi atau bisa juga disesuaikan dengan prestasi yang dicapai oleh seseorang.
c.       Saingan/ kompetisi
Kompetisi adalah persaingan, dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong anak didik agar mereka bergaira belajar. Persaingan, baik dalam bentuk individu maupun kelompok diperlukan dalam pendidikan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk menjadikan proses interaksi belajar mengajar yang kondusif.
d.      Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada anak didik agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai suatu tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya.
e.       Memberi ulangan
Ulangan bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Anak didik biasanya
mempersiapkan diri dengan belajar jauh-jauh hari untuk menghadapi ulangan. Oleh karena itu, ulangan merupakan strategi yang cukup baik untuk memotivasi anak didik agar lebih giat belajar.
f.       Mengetahui hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi. Dengan mengetahui hasil, anak didik terdorong untuk belajar  lebih giat. Apalagi bila hasil belajar itu mengalami kemajuan, anak didik berusaha untuk  mempertahankannya atau bahkan meningkatkan intensitas belajarnya guna mendapatkan prestasi belajar  yang lebih baik dikemudian hari.

g.      Pujian
Pujian yang diucapkan pada waktu yang tepat dapat dijadikan sebagai alat motivasi. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan  sekaligus merupakan motivasi yang baik. Guru bisa memanfaatkan pujian untuk memuji keberhasilan anak didik dalam mengerjakan pekerjaan disekolah. Pujian diberikan sesuai dengan hasil kerja, bukan dibuat-buat atau bertentangan sama sekali dengan hasil kerja anak didik.
h.      Hukuman
Meski hukuman sebagai reinforcement yang negatif, tetapi bila
dilakukan dengan tepat dan  bijak akan merupakan alat motivasi yang baik dan efektif. Hukuman akan merupakan alat motivasi bila dilakukan dengan pendekatan edukatif, bukan karena dendam.
i.        Hasrat untuk belajar.
Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Ahsrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada untu motivasi belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik dari pada anak didik yang tak berhasrat untuk belajar.
j.        Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap suatu  aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.

5.      Upaya Meningkatkan motivasi belajar
Pada kenyataannya di dalam proses belajar  mengajar ada di antara
anak didik yang tidak termotivasi untuk atau tidak belajar terlibat secara aktif dalam kegiatan pengajaran di kelas. Sebagian besar anak didik aktif belajar bersama dan sebagian kecil anak didik dengan berbagai sikap dan perilaku yang terlepas dari kegiatan di belajar kelas. Kedua kegiatan anak didik yang bertentangan ini sebagai gambaran suasana kelas yang kurang kondusif. Guru tidak harus tinggal diam bila ada anak didik yang tidak terlibat langsung dalam belajar bersama. Perhatian harus lebih diarahkan kepada mereka. Usaha perbaikan harus dilaksanakan agar mereka bergairah  belajar
Menurut De Decce dan  Grawford ada empat fungsi guru sebagai
pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan anak motivasi belajar didik yaitu :
a.       Menggairahkan anak didik
Dalam kegiatan rutin di kelas sehari-hari guru harus berusaha
menghindari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan.
b.      Memberikan harapan realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasi harapan-harapan yang kurang atau tidak realistis. Untuk itu guru perlu memilki pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis setiap anak didik di masa lalu.
c.       Memberikan insentif
Bila anak didik mengalami keberhasilan, guru diharapkan memberikan hadiah kepada anak didik (dapat berupa pujian, angka yang baik, dan  sebagainya) atas keberhasilannya, sehingga anak didik terdorong untuk melakukan usaha lebih lanjut guna mencapai tujuan-tujuan pengajaran.
d.      Mengarahkan perilaku anak didik
Mengarahkan perilaku anak didik adalah tugas guru. Di sini kepada
guru dituntut untuk memberikan respons terhadap anak didik yang tak terlibat langsung dalam kegiatan di kelas belajar. Anak didik yang diam, yang membuat keributan, yang berbicara semaunya, dan  sebagainya harus diberikan teguran secara arif dan bijaksana.

  1. Korelasi Kedisiplinan dengan Motivasi Belajar

Motivasi belajar itu timbul dengan kesadaran di sekolah yang tergantungpada faktor intrinsik dan ekstrinsik. Jika motivasi belajar siswa terlalu tergantung pada faktor ekstrinsik, seperti dorongan dari orang tua, guru, atau teman, maka biasanya motivasi belajar cenderung tidak stabil dan mudah menjadi lemah. Jika menghadapi hambatan tertentu, seperti tidak ada dorongan dari orang lain, makatidak ada kedisiplinan di sekolah.
Di sekolah dengan disiplin yang konsistenlah proses belajar dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan rencana yang telah ditentukan di dalam sekolah. Dengan adanya disiplin tersebut, sekolah dapat berfungsi sebagai melatih mengendalikan tingkah laku, tanggung jawab siswa terhadap tata tertib dan  peraturan di sekolah. Selain itu yang paling penting, dengan adanya disiplin yang konsisten, sekolah dapat menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan yang mampu meningkatkan kualitas tingkah laku siswa. Di sekolah-sekolah yang tata
tertibnya tidak konsisten, biasanya akan terjadi berbagai macam masalah yangsangat menghambat proses belajar mengajar. Tidak terlaksananya disiplin atau tata tertib secara konsisten, inilah yang menjadi salah satu penyebab utama terjadinya penurunan motivasi belajar seorang siswa. Maka dari itu dengan adanya kedisiplinan di sekolah, maka siswa akan lebih giat belajar sehingga motivasi belajar meningkat. Penerapan disiplin  yang tinggi akan mempengaruhi motivasi belajar.
Manfaat dan kegunaan disiplin akan terasa baik oleh guru, siswa, dan  tenaga kependidikan lainnya dalam proses pembelajaran di sekolah. Hal ini terjadi jika disiplin ini benar-benar dilakukan, akan tetapi apabila disiplin tidak dilaksanakan secara benar, maka akan menyebabkan terjadinya pelanggaran disiplin.Pelanggaran  disiplin ini akan berakibat negatif terhadap motivasi belajar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedisiplinan di sekolah ada hubungannya dengan motivasi belajar. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.      Dengan motivasi belajar yang baik, maka siswa akan berdisiplin di sekolah.
2.      Dengan adanya disiplin di sekolah, maka siswa akan lebih giat belajar sehingga motivasi belajar meningkat.
3.      Apabila tidak ada kedisiplin di sekolah secara konsisten, maka akan terjadi penurunan motivasi belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA

Thomas Gordon, Mengajar Anak Berdisiplin Diri di Rumah dan di Sekolah. (Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 1996)

Moekijat, Dasar-dasar Motivasi. (Bandung: CV. Pionir Jaya, 2002)

Sardiman, AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: Rajawali Press, 2004)

Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan . (Jakarta: Rajawali, 1984)

H. Djaali, Psikologi Pendidikan . (Jakarta: Bumi Aksara, 2008)

Slameto, Belajar Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka Cipta, 1991)

H.M. Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1996)

Amir Daien Indrakusuma, Pengantar Ilmu Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1973)

Abd. Rachman Abror,Psikologi Pendidikan . (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993)

Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006)

 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara, 2001)

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar . (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar